Jumat, 26 Maret 2010

pengertian iman

IMAN

I. PENDAHULUAN
Dalam mempelajari setiap ilmu pasti ada unsur-unsur pendukungnya dalam memahami ilmu tersebut. Misalnya, tauhid ini kita harus mengetahui apa saja yang harus dibahas dalam mata kuliah tauhid ini. Dalam kesempatan ini saya akan membahas tentang iman, yang di dalam pembahasan ini terdapat permasalahan-permasalahan tentang iman.
Iman merupakan percaya kepada Allah dan menyadarkan diri hanya kepada Allah, tiada yang lainnya. Semua orang Islam harus punya iman dan kita harus meningkatkan iman jangan sampai iman kita berkurang.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa pengertian iman itu sendiri?
B. Bagaimanakah ciri-ciri orang yang beriman?
C. Bagaimanakah hubungan antara iman, islam dan ihsan?
D. Ada berapakah macam-macam iman?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Iman
Makna iman secara bahasa yaitu membenarkan, menampakkan kekhusyu'an dan iqrar (pernyataan/pengakuan). Adapun makna iman secara syar'i yaitu segala bentuk ketaatan bathin maupun zhahir. Ketaatan bathin seperti amalan hati, yaitu pembenaran hati. Sedangkan yang zhahir yaitu perbuatan badan yang mencakup berbagai kewajiban dan amalan-amalan sunnah. Dalam al-Qur-an tidak disebutkan iman saja tanpa disertai dengan perbuatan, namun digabungkan antara iman dan amal shalih di banyak ayat, itu mencakup ucapan dan perbuatan:
- Ucapan hati dan lisan
- Perbuatan hati, lisan dan badan.
Menurut (S. Abul ’ala al-maududi: 1967) iman secara bahasa adalah keyakinan atau kepercayaan. Menurut istilah adalah keyakinan hati dengan penuh yakin tanpa ragu-ragu, yang dinyatakan dengan lisan dan melaksanakan dengan perbuatan. Boleh dikatakan bahwa iman adalah agama dan syariat, karena agama adalah pelaksanaan semua ketaatan dan menjauhi semua larangan, itu adalah sifat iman.
Karena Islam penyerahan diri dan tunduk, maka setiap orang mukmin menyerahkan diri dan tunduk kepada Allah swt., karena boleh jadi ia masuk Islam karena takut pedang. Demikianlah yang dikatakan oleh Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Nabi saw. bersabda iman adalah pengetahuan dengan hati dan perkataan dengan lisan serta pengamalan rukun-rukun yang dimaksud ialah amal perbuatan adalah syarat bagi kesempurnaan iman, sedangkan pernyataan lisan mengungkapkan pembenaran jiwa.
Para ulama’ salaf sepakat bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Pertambahannya dengan melakukan berbagai ketaatan dan kekurangannya dengan melakukan berbagai maksiat. Pertambahan iman terjadi setelah memastikan pelaksanaan perintah dan meninggalkan larangan dan menerima takdir, tidak menyanggah Allah Azza wa Jalla mengenai perbuatan-Nya terhadap semua makhluk-Nya, tidak meragukan janji-Nya mengenai rizki, berserah diri dan bersabar atas cobaan.

B. Ciri-ciri Orang yang Beriman
Adapun ciri-ciri orang yang beriman yaitu:
1. Apabila mereka yang disebut Allah, maka takutlah hati mereka
2. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka
3. Orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada mereka.
Apabila kita beriman dengan haqqon kita akan mendapatkan kedudukan yang tinggi, sebaliknya kalau kita hanya mengatakan iman saja, tapi tidak dengan sugguh-sungguh derajat kita akan rendah di sisi Allah swt.

C. Hubungan Iman, Islam dan Ihsan
Iman adalah percaya kepada Tuhan, malaikat-maaikatNya, kitab-kitabNya, pertemuan dengan Dia (di akhirat), utusan-utusanNya dan hari kebangkitan.
Islam adalah menyembah kepada Tuhan dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, kamu melaksanakan shalat, membayar zakat dan puasa ramadhan. Ihsan ialah menjadi muslim yang sempurna yaitu menyembah Tuhan seakan-akan kamu melihatnya, apabila kamu tidak dapat melihatnya, maka Dia melihatmu.
Ketiga konsep tersebut, membentuk tiga tingkatan secara berurutan menurut konsep agama sebagaimana yang dipahami menurut pengertian Islam. Tingkatan yang paling tinggi adalah ihsan, tingkatan pertengahan adalah iman, kemudian baru islam.
Hubungan yang sama diperoleh diantara dua yang terakhir. Maka di dalam islam terdapat ihsan, dan di dalam iman terdapat ihsan tetapi muhsin adalah lebih khusus dibandingkan dengan mukmin, dan mukmin lebih khusus dibandingkan dengan muslim. Teori tentang ihsan, iman dan islam yang dikemukakan oleh Ibn Taimiyah merupakan teori yang sangat menarik, yang berasal dari analisis struktur semantik bahasa. Menurut Al-Maudi, hubungan islam dengan iman adalah laksana hubungan antara pohon dengan uratnya, demikian pulalah mustahil seseorang bisa menjadi maksum tanpa mempunyai iman.

D. Macam-macam Iman
Seorang muslim harus meyakini tentang adanya rukun iman, yang mana rukun iman itu ada 6 yaitu:

1. Iman kepada Allah swt.
Iman kepada Allah adalah keyakinan pertama dan utama dalam sistem aqidah dan amaliah Islam, dimana aqidah-aqidah rukun iman lainnya hanyalah cabang dari prinsip pertama ini. Aqidah beriman kepada allah itu, kedudukannya sebagai titik pusat dan sumber kekuataan dalam keseluruhan sistem Islam, baik pola pikir dan beramal. Penjelasan al-Qur’an mengenai Allah lebih banyak dikemukakan melalui penjelasan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah dan penyebutan sifat-sifatNya. Pikiran yang wajar dan logis telah diajarkan al-Qur’an tentang alam yang membawanya kepada keyakinan akan eksistensi Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta. Apabila seseorang beriman kepada Allah, ia akan merasakan nikmat sebagai buah pengenalannya dengan Allah, yaitu:
a. Adanya perasaan bebas dalam jiwa, terhindar dari belenggu.
b. Dapat menumbuhkan keberanian
c. Menumbuhkan keyakinan bahwa Allah lah yang memberi rezeki manakala rezeki telah diberikan, tidak ada yang dapat menghalanginya, walaupun orang lain benci.
d. Adanya ketetapan hati dan ketenangan jiwa.
e. Dapat menumbuhkan kekuatan moral
f. Allah memberikan kehidupan sejahtera kepada orang-orang yang beriman di dunia ini.

2. Iman kepada Malaikat
Setelah mengimani Allah manusia diperintahkan untuk mengimani adanya para Malaikat. Faedah beriman kepada Malaikat ialah aqidah menjadi bersih dari noda-noda syirik, karena orang-orang kafir menganggap para Malaikat itu anak-anak Allah. Mereka menyembah Malaikat sebagaimana mereka menyembah Allah. Orang-orang beriman bukan disuruh menyembah malaikat, melainkan untuk mengimaninya. Karena malaikat merupakan makhluk yang suci, oleh karena itu para malaikat diberi tugas masing-masing oleh Allah.


Adapun malaikat yang wajib diketahui oleh orang muslim itu ada 10 malaikat, yaitu:
a. Malaikat Jibril
b. Malaikat Mika’il
c. Malaikat Israfil
d. Malaikat Izra’il
e. Malaikat Munkar dan Nakir
f. Malaikat Rakib dan Atid
g. Malaikat Ridwan
h. Malaikat Malik

Diantara sifat-sifat malaikat adalah sebagai berikut:
- Malaikat diciptakan dari cahaya (Nur)
- Malakat tidak dapat dilihat oleh manusia walaupun berada di tenah mereka
- Malaikat dapat membentuk diri dalam wujud manusia
- Malaikat mempunyai kekuatan yang luar biasa dengan izin Allah
- Malaikat senantiasa bertasbih siang da malam
- Malaikat tidak mempunyai hawa nafsu.

3. Iman kepada Kitab-kitab Allah
Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi tidak dapat semuanya dihadapkan kepada manusia semuanya, karena terbatasnya usia yang dimilikinya. Tetapi Allah mengabarkan adanya kitab-kitab yang di turunkan kepada para Nabi dan umat terdahulu yang harus diyakini keberadaannya. Kitab-kitab tersebut adalah Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud, Taurat yang diturunakan kepada Nabi Musa dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa. Namun semua kitab-kitab tersebut sudah tidak asli lagi, selain isinya tidak sempurna. Sebagai pedoman dan keselamatan, maka Allah menurunkan kitab yang terakhir yang paling lengkap dan paling sempurna serta sifat universal yaitu al-Qur’an. Kitab inilah yang menjadi pedoman manusia sejak manusia yang hidup sampai berakhirnya kehidupan di alam semesta ini.

Firman Allah:
            (البقرة: 4)
”Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)

4. Iman kepada Rasul-rasul Allah
Diantara keadilan Allah adalah mengutus Rasul-rasul dan Nabi-nabi yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Semua Nabi dan Rasul merupakan mata rantai sejak Nabi pertama sampai terakhir, bila kita mendustakan salah seorang Nabi berarti mendustakan semuanya. Allah mengutus mereka dengan dibekali penjelasan dan mu’jizat. Mereka adalah manusia yang tak lepas dari kemanusiaaannya seperti makan, minum, sehat, tidur, hidup atau mati.

Firman Allah:
    •         (النّحل: 36)

”Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl: 36)

5. Iman kepada Hari Akhir
Bahwa kehidupan ini akan ada akhirnya, hari akhir yang tiada hari lagi setelah hari itu. Kemudian datanglah kehidupan yang kedua. Allah membangkitkan makhluk, mengumpulkan mereka semuanya di dalam makhsyar untuk dihisab amalannya, orang-orang yang berbuat baik diberi pahala. Hari kiamat diberi tanda-tanda yang mendahuluinya seperti datangnya Isa masihiddajjal, ya’juj dan ma’juj, turunnya Nabi Isa a.s., keluarnya binatang-binatang dan terbitnya matahari dari sebelah barat. Kemudian ditiuplah terompet kebenaran dan kebangkitan. Diantara mereka ada yang mengambil kitab dengan tangan kanan dan ada pula yang mengambil dengan tangan kirinya.

Firman Allah swt.:
           
”Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)

6. Iman kepada Qadha dan Qadar
Qadha dan Qadar adalah ketentuan Allah bagi manusia yang menunjukka ke-Mahakuasa-an Allah dalam menentukan nasib manusia. Allah maha kuasa untuk menentukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Kuasa dan Maha Tahu tentang nasib seluruh makhluk-Nya. Allah sudah menentukan nasib setiap makhluk-Nya, tetapi tak seorang pun makhluk yang mengetahui nasibnya. Oleh karena itu jika Alah menghendaki, maka Allah Maha Kuasa untuk merubah nasib makhluk-Nya, jika makhluknya berusaha untuk merubahnya.

Firman Allah:
          

”Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-ra’du: 11)

Sesuai dengan ayat di atas bahwa Allah telah menetapkan ketentuan-ketentuan dan nasib manusia di zaman azali yang disebut sebagai Qadha’, demikian pula Allah berkehendak untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan-Nya yang disebut Qadar. Allah Maha Adil dalam memberikan nilai pada setiap usaha yang dilakukan manusia, termasuk merubah nasib dirinya. Setelah upaya dilakukan kemudian berhasil itu adalah takdir. Demikian sebaliknya jika sudah berusaha namun tidak berhasil itu adalah takdir. Setiap takdir Allah adalah yag terbaik bagi manusia.

IV. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas bahwa iman itu meduduki urutan yang kedua, yang paling tinggi adalah ihsan, kemudian yang paling rendah adalah islam. Hubungannya antara iman, islam dan ihsan adalah satu kesatuan, yang mana orang yang mengaku Islam tapi tidak beriman, mustahil orang itu dikatakan Iman. Tapi kalau orang itu beriman maka bisa dikatakan Islam.

V. PENUTUP
Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah, yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Kritik saran serta masukan selalu kami tunggu untuk hasil yang lebih baik dari tulisan ini. Kami memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam penulisan dalam materi yang disuguhkan dalam makalah ini. Terakhir kami sampaikan selamat membaca.






DAFTAR PUSTAKA


Al-Jazair, Abu Bakar Jabir, Pola Hidup Muslim, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990.

Al-Khaubawiy, Umar bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir, Durrotun Nasihin, Semarang: Toha Putra, 1949.

Al-Maududi, S. Abul ‘Ala, Toward Understanding Islam, Yogyakarta: Sulita, 1967.

¬____________________ , Dasar-dasar Iman, Bandung: Pustaka, 1986.

An-Nawawi, Muhammad bin Umar, Terjemah Tanqihul Qaul, Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995.

Daudy, Ahmad, Kuliah Akidah Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1997.

Nurdin, Muslim, dkk., Moral dan Kognisi Islam, Bandung: Alfabeta, 2001.

Taimiyah, Ibnu, Al-Iman, Damaskus, 1961.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar